Ketika Aku berlari, aku memasuki lorong waktu. Kadang ke masa lalu, mengingat perjalanan yang sudah dilewati, kadang ke masa sekarang, mencerna apapun yang dilihat dan didengar, kadang ke masa depan, bertanya-tanya apa yang akan terjadi berikutnya. Dan kalau ingat, mempertanyakan ke diri sendiri, apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang sedang aku diskusikan dengan diriku sendiri?
Semua berawal dari keinginan untuk menjaga kesehatan, karena kebanyakan duduk main game atau menghabiskan waktu di dunia maya yang ketika aku ingat-ingat sekarang, waktu itu aku berpikir yang penting menyempatkan waktu untuk bergerak, sebuah alasan yang sangat sederhana. Sesekali dalam beberapa bulan, lama kelamaan intensitasnya meningkat, sebulan sekali, sebulan dua kali, hingga akhirnya sekarang bisa memaksa diri sampai minimal sepekan sekali.
Pada awalnya seringkali aku ngin berlari kencang, mendekati kecepatan atlet, kemudian lama kelamaan belajar, baru paham kalau lari ini sebuah proses panjang. Yang bisa dinilai adalah konsistensinya, dan akan terlihat sebulan, setahun, sedekade yang akan datang.
Memaksa badan untuk bergerak, mendengarkan sinyalnya, menjaga asupan juga istirahatnya. Sama seperti menulis, dimulai dari memegang alat tulis kemudian menulis, kalau lari dimulai dari memakai sepatu dan berlari. Sampai akhirnya mengerti, ada banyak faktor yang mendukung kegiatan ini, ternyata, setelah berlari.
Dalam berlari ada saatnya terasa terlalu lelah, waktu belum bisa mengukur berapa kecepatan yang harus aku tuju seharusnya. Semua berawal dari asal-asalan, gak peduli berapa kecepatan lariku, yang penting lari. Yang dipikirkan hanya gimana caranya banyakin keringat. Sampai suatu waktu, lari ini menjadi caraku ‘melompati waktu’, hanya ingin mempersingkat waktu, memasuki sebuah lorong, yang ketika selesai dari lorong waktu itu, ada rasa senang, kadang bangga, kadang lega. Kembali lagi ke kenyataan hidup.
Dalam lorong waktu itu aku menghilang, hanya ada diriku dan aku. Kami merekam percakapan dalam kepala, kalau lagi gak ada yang didengerin (seperti musik, podcast), entah apa yang dibicarakan. Saat berlari saja susah untuk mengingatnya, apalagi setelahnya. Melompat, yang ada diingatan hanya berapa lama aktivitas ini dilakukan, dan seberapa jauh, sisanya entah ada pada lembar keberapa memori lari dalam otak ini.
Dari tenggelam dalam serunya permainan digital, ternyata bisa mengantarkan diriku untuk bisa menikmati jalanan, suara langkah kaki, matahari pagi, dinginnya malam, sampai rintik hujan, aku tidak se-tidak suka itu dengan jalan dan lari. Semua rasa sakitnya terasa, kemudian aku amini. Sempet bikin kapok, tapi lama kelamaan yaudah, ternyata ada banyak hal dalam pelarian ini yang bisa membayar rasa sakit itu.
Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, aku gak tau sampai kapan kebiasaan berlari ini (sebuah kegiatan menghilang dalam lorong waktu) akan berakhir. Yang pasti, sekarang aku masih bisa menikmatinya. Sekarang aku masih mau berlari. Ternyata lari bisa membawaku sampai sini.